Feature 1

twitter maskolis

Praktek Mesin Bubut, Kompeten dan Lembur


Sudah lama didengar istilah pembelajaran berbasis kompetensi, istilah aslinya adalah CBT = Competensi Based Trainning. Maksudnya adalah proses pelajaran didasarkan pada kemampuan/kompetensi tertentu. Jadi siswa dianggap tuntas, mampu atau kompeten apabila telah menyelesaikan target/job tertentu. Kalau belum menyelesaikan sejumlah target minimal yang ditentukan siswa belum dianggap mampu/kompeten.

Hal ini juga diterapkan di SMK Ma'arif Kota Mungkid, khususnya pada pelajaran bekerja dengan mesin bubut untuk kelas 2 teknik mesin dan juga pelajaran menggambar teknik 2, yang diampu oleh PM (inisial penulis). Hal ini dilaksanakan dengan tujuan agar siswa punya tanggung-jawab untuk menyelesaikan tugas/beban belajar yang telah ditetapkan dan disepakati bersama yang pada akhirnya siswa mempunyai etos kerja, sikap kerja dan kedisiplinan kerja serta dapat memanfaatkan waktu belajar sebaik-baiknya agar tepat waktu dalam menyelesaikan tugas/beban belajar.

Pola pembelajaran pada pekerjaan mesin bubut kelas 2 yang diterapkan, antara lain :
  • Satu benda kerja 1 anak, artinya tiap kompetensi diukur dengan pekerjaan yang dilaksanakan oleh setiap anak dengan dibuktikan hasil pekerjaan berupa benda kerja yang dilengkapi dengan portofolio/lembar penilaian setiap anak. Dengan cara ini setiap anak wajib menyelesaikan pekerjaannya sendiri, tidak dengan 1 benda kerja untuk lebih dari 1 orang, yang memungkinkan penilaian menjadi tidak objectif dan tidak adil.
  • Jobsheet dibuat dengan berbagai level, mulai dari level mudah - sedang - menengah - sulit. Pola ini anak diajarkan model pendidikan yang tidak menakutkan, sebaliknya anak merasa tertantang.
  • Pada job 1, pekerjaan mudah dan simpel, dengan nilai yang mudah diraih karena kualitas pekerjaan masih mudah sehingga anak akan senang mengerjakan dan rata-rata mendapatkan nilai 80. Pekerjaan pada job 1 meliputi ; bubut facing, bubut rata dan chamfer saja, namun aspek penilaian lengkap meliputi kehalusan, ketepatan ukuran, kecepatan waktu, profil, keselamatan kerja, langkah kerja. Ketepatan ukuran pada tiap bagian yang terukur menempati posisi dominan = 70 %.
  • Selanjutnya pada job 2 kompetensi ditambah sedikit rumit, disamping pekerjaan dasar pada job 1 juga dilengkapi bubut bertingkat, alur, ulir, tirus, mengebor, dan membuat ulir dalam dengan tap.
  • Begitu juga pada job 3 yang menitik beratkan pada pekerjaan mengebor, dan pada job 4 diutamakan pada pekerjaan membuat ulir luar dengan mesin bubut.
  • Terakhir mereka harus menyelesaikan seluruh rangkaian kompetensi yang diwajibkan. Apabila pada akhir masa pelajaran yang dijadwalkan belum selesai, maka siswa belum bisa mendapatkan nilai untuk dapat mengikuti pelajaran di kelas berikutnya. Biasanya terdapat beberapa siswa (hampi mencapai 30 %) yang harus menambah waktu praktek untuk menyelesaikan jobsheet masing-masing. Mereka biasa menyebut istilah LEMBUR, dan untuk LEMBUR mereka harus membayar untuk keperluan praktek overtime ini yang besarnya diseakati Rp 3000,- untuk 1 harinya. Uang ini dikelola oleh bengkel untuk pelayanan bengkel agar lebih optimal.

Pola LEMBUR untuk mencapai kompetensi ini diperoleh penulis pada saat mengikuti diklat dan uji kompetensi di SCTC/ATMI Surakarta. Di SMK Mikael dan ATMI Surakarta menggunakan pola PBT = Production Based Training, setiap siswa diberi beban tugas/pekerjaan yang memang sedang dibutuhkan/dipesan oleh konsumen, harus tepat ukuran dan harus selesai tepat waktu. Begitu juga jumlah pertemuan/kehadiran harus sesuai dengan yang ditetapkan, bila kurang mereka harus mengganti dengan lembur bekerja di bengkel, termasuk bila terjadi kerusakan alat akibat kesalahan siswa, maka mereka harus mengganti dengan bekerja overtime di bengkel.

Hal ini penulis adopsi dan diterapkan di SMK Ma'arif Kota Mungkid, khususnya untuk pelajaran bubut, dan ternyata hasilnya sangat bagus dan signifikan. Siswa terlatih untuk disiplin, siswa punya orientasi kerja yang terarah dan punya tanggung-jawab individu untuk menyelesaikan pekerjaan/pembelajaran, yang pada akhirnya siswa memiliki kompetensi/kemampuan yang telah direncanakan.

Beberapa hal menjadi kendala sehingga siswa harus lembur untuk mencapai kompetensi sesuai target waktu tersedia ini yang perlu dicari jalan keluarnya. Antara lain karena total pertemuan jam/minggu yang perlu dievaluasi, berikut gambarannya;
  1. Plot waktu untuk pelajaran bubut kelas 2 hanya 5 jam/minggu, itupun masih harus dibagi 2 karena dengan sistem rolling dengan frais/gerinda. Jadi total waktu praktek bubut hanya 2,5 jam/minggu.
  2. Masih akan terkurangi dengan kemungkinan libur, mati listrik atau pulang gasik bila ada acara tertentu.
  3. Semester genap kepotong lagi 2 bulan lebih untuk PKL dan kunjungan industri.
Akhirnya ... masukan dari berbagai pihak terutama yang terkait dan terjun langsung, dan mari kita sempurnakan sistem pendidikan di SMK Ma'arif ke depan agar kompetensi siswa dapat optimal dan dapat membawa kemajuan bagi semua yang berkepentingan.

0 komentar:

Poskan Komentar