Feature 1

twitter maskolis

1 PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PERMESINAN CNC MELALUI PENGGUNAAN SIMULATOR MESIN BUBUT CNC BAGI SISWA KELAS XII TEKNIK PEMESINAN DI SMK NASIONAL BERBAH TAHUN AJARAN 2012


ARTIKEL
Oleh :
Mujabirul Khoir
NIM. 11503247004
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2013
2
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PERMESINAN CNC MELALUI
PENGGUNAAN SIMULATOR MESIN BUBUT CNC
BAGI SISWA KELAS XII TEKNIK PEMESINAN
DI SMK NASIONAL BERBAH
TAHUN AJARAN 2012
Oleh:
Mujabirul Khoir
11503247004
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) meningkatkan keaktifan siswa kelas XII
TP SMK Nasional Berbah Yogyakarta pada mata pelajaran CNC menggunakan
media simulator mesin bubut CNC, dan (2) meningkatkan prestasi belajar siswa
pada mata pelajaran CNC menggunakan media simulator mesin bubut CNC.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan model Kemmis
& Mc Taggart. Penelitian ini berlangsung selama tiga kali putaran (siklus).
Prosedur penelitian dimulai dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan,
pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XII SMK
Nasional Berbah, yang berjumlah 30 siswa. Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah lembar observasi, dan tes hasil belajar. Data tentang
keaktifan siswa diperoleh melalui observasi kelas dan hasil observasi diolah
secara pengolahan kelompok dan individual untuk membandingkan tingkat
keaktifan siswa pada setiap siklus. Data tentang prestasi belajar diperoleh melalui
ujian dan dianalisis untuk membandingkan hasil ujian pada setiap siklus.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran dengan menggunakan
media simulator mesin bubut CNC dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi
belajar siswa selama proses pembelajaran. Pola pembelajaran yang dilakukan
pada siklus I adalah dengan metode ceramah, tanya jawab, dan menggunakan
media power point sangat tepat pada tahap awal untuk menyampaikan materi
tentang bagian-bagian pemrograman. Hal ini dibuktikan jumlah siswa yang
sangat aktif selama pembelajaran adalah 11 siswa atau 37% dengan prestasi
belajar mencapai 6.65. Pola pembelajaran yang dilakukan pada siklus II adalah
memberikan latihan dan tugas dengan intensitas yang tinggi mampu
meningkatkan keaktifan siswa sejumlah 16 siswa atau 53% disertai dengan
prestasi belajar sebesar 7.34. pola pembelajaran dengan pemecahan masalah yang
diterapkan pada siklus III mampu meningkatkan keaktifan siswa yaitu menjadi 21
siswa atau 67% diikuti dengan peningkatan prestasi belajar mencapai 7.92.
Kata Kunci: Simulator Mesin Bubut CNC
3
Pendahuluan
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan salah satu lembaga
pendidikan kejuruan yang memiliki tugas mempersiapkan peserta didiknya untuk
dapat bekerja pada bidang-bidang tertentu. Pendidikan SMK merupakan lanjutan
pendidikan dasar yang mempunyai tujuan utama untuk menyiapkan tenaga kerja
sesuai tuntutan dunia kerja, meliputi pengembangan diri baik dalam dimensi fisik,
intelektual, emosional, dan spiritual. Dalam perkembangannya SMK dituntut
harus mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas yang
berakselerasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. SMK sebagai
pencetak tenaga kerja yang siap pakai harus membekali peserta didiknya dengan
pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan kompetensi program keahlian
masing-masing. Untuk itu kualitas kegiatan belajar mengajar semestinya juga
harus ditingkatkan secara terus menerus.
Keberhasilan pembelajaran di sekolah akan terwujud dari keberhasilan
belajar siswanya. Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahanperubahan
dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku
yang baru berkat pengalaman dan latihan (Oemar Hamalik, 1983: 21). Perubahanperubahan
tersebut bisa terjadi karena adanya interaksi antara individu dengan
individu dan individu dengan lingkungannya. Oleh karena itu dalam proses belajar
mengajar dirancang strategi untuk menciptakan suasana interaksi. Strategi belajar
untuk meningkatkan interaksi tersebut dengan sumber belajar yang berupa mesin
bubut CNC. Dengan sumber belajar mesin CNC yang mahal, maka diciptakan
simulator mesin bubut CNC sebagai sumber belajar, sehingga akan meningkatkan
4
interaksi selama proses pembelajaran, baik interaksi guru dengan siswa, siswa
dengan siswa, siswa dengan sumber belajar yang berupa simulator mesin bubut
CNC.
SMK Nasional Berbah merupakan salah satu SMK di Yogyakarta yang
memiliki Program Teknik Mesin. Salah satu standar kompetensi yang ada di
Jurusan Teknik Permesinan adalah mampu melakukan pekerjaan pemesinan
dengan mesin CNC (Computer Numerically Controlled). Pencapaian kompetensi
dasar pada pekerjaan permesinan dengan CNC di antaranya adalah siswa mampu
membuat program dan menggunakan mesin CNC, maka dari itu pencapaian
kompetensi tidak hanya sebatas teori saja, tetapi perlu adanya praktik membuat
program CNC dan mengeksekusi program tersebut. Supaya dapat melaksanakan
praktik dengan baik, maka Jurusan Teknik Mesin harus memiliki fasilitas yang
memadai. Dalam hal ini fasilitas yang utama adalah mesin CNC baik mesin CNC
TU-2A, CNC TU-3A, CNC PU-2A dan CNC PU-3A.
Keterbatasan fasilitas yang dimiliki oleh Program Teknik Mesin SMK
Nasional Berbah yang berupa mesin CNC menyebabkan siswa tidak mempunyai
pengalaman nyata dalam membuat program CNC, mengeksekusi program CNC,
memperbaiki program CNC jika terjadi kesalahan, dan pengoperasian mesin
CNC. Lebih dari itu siswa juga kurang dalam pemahaman tentang pemrograman
dan belum mampu mencapai standar kompetensi pemrograman CNC. Pemahaman
tentang pemrograman CNC dan kemampuan membuat program hanya teoritis
bersumber dari modul dan guru pengampu saja.
5
Permasalahan belajar seperti yang diungkapkan tersebut terjadi pada siswa
di SMK Nasional Berbah kelas XII Program Keahlian Teknik Mesin. Hal
demikian itu menimbulkan anggapan keliru tentang belajar CNC. Anggapan
tentang sulitnya belajar CNC sering mendominasi pemikiran siswa sehingga
banyak di antara mereka kurang berminat untuk mempelajari CNC dan siswa
kurang termotivasi dalam belajar. Selain itu, pembelajaran juga masih terpusat
pada guru. Guru banyak menjelaskan dan siswa kurang diberi kesempatan untuk
berdiskusi dengan temannya.
Metode pembelajaran CNC yang digunakan selama ini adalah ceramah,
diskusi dan pemberian tugas nampaknya masih kurang maksimal. Selain yang
dilakukan tersebut, pembelajaran CNC perlu dilengkapi dengan pengunaan media
pembelajaran yang mampu menunjukkan hasil eksekusi program CNC yang telah
dibuat oleh siswa. Salah satu media yang dapat dimanfaatkan adalah simulator
CNC. Penggunaan simulator CNC ini bertujuan untuk memberi kesempatan
kepada siswa mensimulasi eksekusi program yang dibuat, sehingga siswa aktif
dalam membuat, menganalisis dan mengevaluasi program yang dibuat, dan
akibatnya dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat program CNC.
Upaya yang dilakukan untuk meningkatan hasil belajar siswa adalah
meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar CNC. Untuk meningkatkan keaktifan
siswa diperlukan media untuk memvisualisasikan hasil eksekusi program CNC
yang telah dibuat. Media yang dapat digunakan adalah simulator mesin bubut
CNC yang dibuat oleh Bambang Setiyo HP, dkk. Dengan menggunakan
simulator mesin bubut CNC diharapkan siswa dapat membuat program CNC dan
6
dapat mengetahui kesalahan program sebelum diaplikasikan dengan Simulator
mesin CNC, dapat menumbuhkan semangat untuk memperbaiki kesalahan
sehingga motivasi dan keaktifan belajar siswa akan muncul dari dalam diri siswa
tersebut.
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas maka masalah dalam
penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) Bagaimanakah pola
penerapan simulator mesin bubt CNC yang mampu meningkatkan keaktifan dan
prestasi belajar siswa dalam pembelajaran pemprograman CNC?; (2)
Bagaimanakah prestasi belajar siswa dalam pembelajaran pemrograman CNC
menggunakan simulator mesin bubut CNC?
Belajar menurut Permendiknas No. 41 Tahun 2007 merupakan perubahan
yang relatif permanen dalam kapasitas pribadi seseorang sebagai akibat pengolahan
atas pengalaman yang diperolehnya dan praktik yang dilakukannya.
Sugihartono dkk. (2007: 74), juga mengemukakan bahwa belajar merupakan suatu
proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi individu dengan
lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Proses belajar akan berlangsung efektif jika siswa terlibat secara aktif dalam
tugas-tugas yang bermakna dan berinteraksi dengan materi yang bermakna
(Benny A. Pribadi, 2009: 19). Tugas-tugas yang bermakna berupa pemberian
tugas yang dapat meningkatkan penguasaan siswa terhadap pengetahuan dan
keterampilan yang dipelajari. Materi yang bermakna merupakan materi yang
serupa dengan apa yang telah diketahui oleh peserta didik dan materi dapat
dinyatakan dalam berbagai cara tanpa mengubah artinya (Ratna Wilis Dahar,
7
2011: 99). Materi yang disampaikan merupakan meteri yang memiliki hubungan
dengan dunia nyata.
Penyampaian materi yang bermakna akan terjadi interaksi. Pola
interaksi kegiatan belajar mengajar dapat terjadi bervariasi (A. Samana, 1992:
105) adalah sebagai berikut:
Pola guru→ siswa
Pola interaksi ini menempatkan guru sebagai pemberi aksi dan peserta
didik sebagai penerima aksi. Guru aktif dan peserta didik pasif. Pola interaksi
tersebut meliputi: memberi informasi, memberi tugas, memotivasi, memberi
umpan balik, membina disiplin kelas.
Pola siswa→ guru
Pola interaksi ini menempatkan peserta didik sebagai pemberi aksi
dan guru sebagai penerima aksi. Pola interaksi ini siswa melakukan kegiatan
G
SI
S2 S3
Sn
G
SI
S2 S3
Sn
8
di antaranya sebagi berikut: bertanya, mengusulkan sesuatu, meminta bantuan
guru, menjawab pertanyaan guru.
Pola siswa→ siswa
Pola interaksi ini siswa melakukan kegiatan di antaranya sebagai
berikut: Tanya jawab, diskusi, berdialog, problem solving.
Pembelajaran aktif didefinisikan sebagai metode pengajaran yang
melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran (Warsono dan
Hariyanto, 2012: 12). Rusman (2011: 324) mengatakan bahwa pembelajaran aktif
merupakan pendekatan yang lebih banyak melibatkan aktivitas siswa dalam
mengakses berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam
proses pembelajaran.
Aktif dalam konsep cara belajar siswa aktif (CBSA) adalah aktivitas mental
intelektual yang ada dalam proses akomodasi dan asimilasi kognitif. Rasa senang
atau tidak senang, tertarik atau tidak tertarik simpati atau antipati, adalah dimensidimensi
emosional yang turut terlibat dalam proses belajar. Kegiatan secara fisik,
seperti menulis, mengatur, meragakan, dan sebagainya juga turut terlibat. Semua
kegiatan inilah yang dimaksud dengan istilah aktif dalam CBSA, sehingga CBSA
adalah cara mengajar dengan melibatkan aktivitas siswa secara maksimal dalam
SI
S2 S3
S4
S5
9
proses belajar baik kegiatan mental intelektual, kegiatan emosional, maupun
kegiatan fisik secara terpadu (W. Gulo, 2002: 74).
Keberhasilan pembelajaran di sekolah akan terwujud dari keberhasilan
belajar siswanya. Kebrhasilan siswa ini di sebut hasil belajar. Nana Sudjana
(2010: 22) dalam bukunya yang berjudul penilaian hasil proses belajar mengajar
dijelaskan bahwa hasil belajar merupakan suatu kemampuan-kemampuan yang
dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Sedangkan menurut
Oemar Hamalik (1994: 45) adalah prestasi belajar yang berupa adanya perubahan
sikap dan tingkah laku setelah menerima pelajaran atau setelah mempelajari
sesuatu.
Metode Penelitian
Penelitian ini termasuk ke dalam kategori penelitian tindakan (Action
Research). Secara umum penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil
belajar siswa kelas XII SMK Nasional Berbah dengan menggunakkan simulator
mesin bubut CNC. Sesuai dengan tujuan penelitian, jenis penelitian yang
digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK).
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan yang dilakukan untuk
meningkatkan hasil belajar siswa dalam mengoperasikan mesin pada mata
pelajaran CNC dasar. Desain penelitian yang digunakan adalah model Kemmis
dan Taggart. Proses pelaksanaan tindakan dilaksanakan secara bertahap sampai
penelitian ini berhasil. Prosedur penelitian dimulai dari (1) perencaan tindakan,
(2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan, (4) refeksi.
10
Plan
Action
Observation
Reflektif
Gambar 1. Proses Penelitian Tindakan Model Kemmis & Mc Taggart (Sukardi,
2011: 215)
Hasil Dan Pembahasan
Penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan media simulator
mesin bubut CNC di SMK Nasional Berbah berlangsung selama tiga siklus.
Kegiatan penelitian diawali dengan perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan,
observasi dan refleksi.
Siklus I
Siklus I yang mencakup kompetensi mengenal dasar-dasar pemrograman
CNC dilaksanakan selama dua pertemuan. Metode pembelajaran yang digunakan
berupa ceramah untuk menyampaikan materi yang dukung dengan media power
point dan simulator mesin bubut CNC. Hal-hal yang dicatat dalam siklus I ini
sebagai berikut:
1. Keaktifan siswa untuk mengikuti pembelajaran yang dtandai dengan
perhatian siswa selama pembelajaran yang kurang baik. Sebanyak 10 siswa
REVISED PLAN
Plan
Action
Observation
Reflektif
11
memperhatikan pendapat siswa lain. Fakta ini mungkin disebabkan karena
siswa belum bisa menghargai teman sendiri.
2. Dalam pertemuan ini hanya tiga orang siswa yang bertanya, mengemukakan
pendapat, dan menjawab pertanyaan. Siswa lebih memilih untuk pasif. Hal ini
mungkin disebabkan oleh kekurang beranian siswa untuk merespon materi
ajar di depan guru. Siswa tidak mau bertanya dan mengemukakan pendapat
karena mereka memiliki perasaan takut salah. Yang mau bertanya takut
dianggap bodoh dan yang mau menjawab takut dianggap sombong.
Kemungkinan, hal ini disebabkan oleh penggunaan metode diskusi dalam
proses pembelajaran kurang dominan selama ini.
3. Persentase keaktifan dalam ketekunan siswa masih rendah. Mengumpulkan
tugas tepat waktu sebanyak 10 siswa. Fakta ini dibuktikan pada waktu
mengumpulkan tugas belum selesai.
4. Dari segi gangguan kelas, persentase keaktifan siswa telah mencapai 83.3%.
Siswa tidak mengganggu temannya, Siswa tidak ribut sendiri saat guru
menjelaskan, Siswa tidak mengobrol dengan siswa sebangku.
5. Setelah dilakukan tes didapat nilai terendah 5.75, nilai tertinggi 8.00.
Sedangkan rata-rata nilai yang diperoleh adalah 6.65.
Siklus II
Bertitik tolak dari masalah tersebut di atas, maka peneliti dan guru
membuat rencana pembelajaran sebagai berikut: (1) guru memberikan arahan
kapada siswa yang belum bisa menghargai pendapat siswa lain, (2) guru memberi
12
motivasi atau dorongan bagi siswa yang bertanya takut salah, takut kalau bertanya
dianggap bodoh dan yang menjawab dianggap sombong, (3) Guru langsung
memberikan nilai terhadap tugas yang dikerjakan sebagai apresiasi terhadap
pekerjaan siswa.
Siklus II yang mencakup kompetensi mengenal menulis program dalam
lembar operasi NC/CNC. Metode pembelajaran yang dilakukan dengan
memberikan tugas dan latihan dengan intensitas yang tinggi menggunakan
diskusi. Siklus dua dalam penelitian ini dilaksanakan selama dua kali pertemuan
dengan hasil pengamatan sebagai berikut:
1. Keaktifan siswa untuk mengikuti pembelajaran yang dtandai dengan kedua
perhatian siswa selama pembelajaran sudah baik. Hal ini nampak pada
perhatikan terhadap penjelasan guru sebanyak 24 atau 80%. Begitu juga
dengan perhatikan siswa terhadap proses penyelesaian masalah sebanyak 25
atau 83.3%. Namun perhatikan siswa terhadap pendapat siswa lain sudah
mengalami kenaikan menjadi 15 atau 50% . Fakta ini mungkin disebabkan
karena siswa belum bisa menghargai teman sendiri dan menganggap remeh
pendapat siswa lain.
2. Dalam pertemuan ini hanya 15 atau 50% siswa yang bertanya,
mengemukakan pendapat, dan menjawab pertanyaan. Siswa lebih memilih
untuk pasif. Hal ini mungkin disebabkan oleh kekurang beranian siswa untuk
merespon materi ajar di depan guru. Siswa tidak mau bertanya dan
mengemukakan pendapat karena mereka memiliki perasaan takut salah. Yang
mau bertanya takut dianggap bodoh dan yang mau menjawab takut dianggap
13
sombong. Kemungkinan, hal ini disebabkan oleh penggunaan metode diskusi
dalam proses pembelajaran kurang dominan selama ini.
3. Dari segi gangguan kelas, persentase keaktifan siswa telah mencapai 83.3%.
Siswa tidak mengganggu temannya, Siswa tidak ribut sendiri saat guru
menjelaskan, Siswa tidak mengobrol dengan siswa sebangku.
4. Setelah dilakukan tes didapat nilai terendah 6.75, nilai tertinggi 8.25.
Sedangkan rata-rata nilai yang diperoleh secara keseluruhan adalah 7.34.
Faktor-faktor yang diduga menjadi timbulnya masalah-masalah
tersebut sebagai berikut: (1) siswa masih belum paham tentang fungsi fungsi
tombol simulator mesin bubut CNC; (2) siswa masih kebingungan dalam
memahami gerakan pahat dalam pembuatan program pembubutan bertingkat;
(3) siswa masih kebingungan dalam menghapus alarm apabila ada kesalahan
dalam mencoba program.
Siklus III
Mengacu pada masalah dan faktor-faktor penyebab timbulnya masalah
yang ditemukan pada pelaksanaan tindakan II, maka peneliti dan guru
pembimbing merencanakan untuk pelaksanaan tindakan III. Langkah perencanaan
pada tindakan III ini adalah: (1) memberikan penjelasan dan latihan-latihan
tentang koordinat gerakan pahat (X dan Y) yang harus tempuh (2) memberikan
tugas kepada siswa untuk mencatat fungsi alarm dan pelayanan CNC.
Siklus ketiga dalam penelitian ini dilaksanakan semala satu kali pertemuan
dengan hasil pengamatan sebagai berikut:
14
1. pembelajaran pada tindakan III menunjukkan bahwa keaktifan sisawa
tergolong tinggi. Berdasarkan data diatas, tindakan III dianggap berhasil,
karena siswa sudah mencapai standar yang ditetapkan, yaitu persentase siswa
sudah mencapai lebih dari 75% aktif selama proses pembelajaran.
2. Setelah dilakukan tes didapat nilai terendah 7.50, nilai tertinggi 8.50.
Sedangkan rata-rata nilai yang diperoleh adalah 7.92.
Intervensi tindakan selama pembelajaran praktik NC/CNC menggunakan
media simulator mesin bubut CNC di SMK Nasional Berbah berlangsung selama
tiga siklus, karena pada siklus III menunjukkan bahwa semua siswa telah terlibat
aktif dalam melakukan praktik CNC dan penguasaan materi ajar telah memenuhi
Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 75.00, sehingga pelaksanaan
penelitian sudah dapat dihentikan karena sudah mencapai indikator keberhasilan
yang ditentukan.
Kesimpulan
Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan untuk meningkatkan keaktifan
dan prestasi belajar siswa di SMK Nasional Berbah. Dengan menggunakan
simulator mesin bubut CNC mampu meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar
siswa. Penggunaan simulator msin bubut CNC dalam peningkatkan keaktifan dan
prestasi belajar siswa dalam praktik CNC telah dilaksanakan dalam tiga siklus
kegiatan, menghasilkan kesimpulan sebagai berikut.
1. Penerapan pembelajaran yang dilakukan dengan memberikan soal latihan,
pemberian tugas secara kelompok dan praktik menggunakan simulator mesin
bubut CNC dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Hal ini
15
dibuktikan dengan keaktifan siswa pada siklus I 65.8% meningkat pada siklus
III menjadi 79.9%.
2. Penerapan pembelajaran menggunaan simulator mesin bubut CNC sebagai
media dalam pembelajaran CNC mampu meningkatkan prestasi belajar siswa
dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini didukung dengan hasil
prestasi belajar siswa pada siklus I adalah 6.65 meningkat pada siklus III
menjadi 7.92.
Daftar Pustaka
A. Samana, (1992). Sistem Pengajaran. Yogyakarta: Kanisius.
Benny A. Pribadi, (2009). Model Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Dian
Rakyat.
BSNP. (2007). Permendiknas RI No 41, Tahun 2007, Tentang Standar Proses
untuk Satuan Pendidikan dasar dan Menengah.
Emrizal, (2007). CNC Bubut. Bogor: Yudhistira.
Nana Sudjana, (2005). Penilaian Hasil Proses Belajar. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Oemar Hamalik, (1983). Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar.
Bandung: Tarsito.
Ratna Wilis Dahar, (2011). Teori-Teori Belajar Mengajar. Ciracas: Erlangga.
Rusman. (2010). Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme
Guru. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sugihartono, dkk. (2007). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
Sukardi. (2011). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
W. Gulo, (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo.
Warsono dan Hariyanto, (2012). Pembelajaran Aktif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.

0 komentar:

Poskan Komentar