Feature 1

twitter maskolis

PENERAPAN MODUL MESIN BUBUT CNC UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIVAN DAN KOMPETENSI SISWA PADA MATA PELAJARAN CNC DASAR DI SMK MUHAMMADIYAH 1 SALAM ARTIKEL Oleh : Dhani Setiana NIM. 11503247006 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2013


1
ABSTRAK
PENERAPAN MODUL MESIN BUBUT CNC UNTUK MENINGKATKAN
KEAKTIVAN DAN KOMPETENSI SISWA PADA MATA PELAJARAN
CNC DASAR DI SMK MUHAMMADIYAH 1 SALAM
Oleh
Dhani Setiana
NIM. 11503247006
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengevaluasi peningkatan keaktivan
belajar siswa kelas XII MPA SMK Muhammadiyah 1 Salam selama proses
pembelajaran mata pelajaran CNC dasar dengan menggunakan media modul
pembelajaran, dan (2) mengevaluasi peningkatan kompetensi belajar siswa kelas
XII SMK Muhammadiyah 1 Salam selama proses pembelajaran mata pelajaran
CNC dasar dengan menggunakan media modul pembelajaran.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan model
Kemmis & Mc Taggart. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga kali putaran
(siklus). Setiap pertemuan menggunakan langkah-langkah: plan, action,
observation, dan reflektif. Jumlah siswa yang menjadi subjek penelitian ada 16
siswa. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
lembar observasi, catatan lapangan, lembar penilaian praktik dan tes hasil
belajar. Data tentang keaktivan siswa diperoleh melalui observasi kelas dan
dianalisis untuk membandingkan tingkat keaktivan siswa pada setiap siklus. Data
tentang prestasi belajar diperoleh melalui tes dan unjuk kerja kemudian dianalisis
untuk membandingkan hasil ujian pada setiap siklus.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran dengan
menggunakan modul mesin bubut CNC dapat meningkatkan keaktivan dan
kompetensi belajar siswa selama proses pembelajaran. Hal tersebut dibuktikan
dengan meningkatnya keaktivan siswa yaitu: (1) siswa yang patuh dalam
mengerjakan evaluasi pada modul yang semula pada siklus I 8 anak meningkat
menjadi 16 anak pada siklus III, (2) siswa yang patuh dalam mencatat materi
tambahan yang semula pada siklus I 6 anak menjadi 15 anak pada siklus III, (3)
siswa yang berani menyajikan temuanya atau mempraktikan didepan kelas yang
semula 4 anak menjadi 10 anak pada siklus III, (4) siswa yang berani menjawab
pertanyaan guru yang semula pada siklus I hanya 4 anak menjadi 10 anak pada
siklus III, (5) kerjasama dalam hal pembagian tugas kelompok juga dapat
berjalan, (6) kerjasama dalam meyelesaikan praktik juga dapat terlaksana
dengan baik, (7) siswa yang memperhatikan penjelasan guru juga meningkat dari
9 anak pada siklus I menjadi 15 anak pada siklus III, dan (8) siswa yang
memperhatikan saat siswa lain mengungkapkan pendapat juga meningkat yang
semula siklus I 7 anak menjadi 15 anak pada siklus III. Sedangkan peningkatan
kompetensi dibuktikan dengan nilai rata-rata ujian siswa mengalami peningkatan
yang semula pada siklus I 6.4 menjadi 7.9 pada siklus III dan nilai rata-rata
praktik mengoperasikan mesin bubut CNC yang semula 0 menjadi 8.5 pada
siklus III. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan modul
mesin bubut CNC dengan sistem kontrol sinumerik 802S pada mata pelajaran
CNC dasar dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran dan kompetensi siswa
kelas XII MPA SMK Muhammadiyah 1 Salam.
Kata kunci: modul mesin bubut CNC, aktivitas, kompetensi belajar
2
Pendahuluan
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu
cepat, perkembangan tersebut menuntut adanya sumber daya manusia yang
memiliki sikap profesional serta dapat bekerja secara individu maupun kelompok
agar dapat bersaing dan tidak tertinggal. Pendidikan memegang peranan yang
sangat penting untuk mencetak manusia yang profesional serta dapat bekerja
secara individu.
Pendidikan menengah kejuruan adalah pendidikan jenjang menengah
yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk melaksanakan
jenis pekerjaan tertentu (Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990). Para siswa
SMK banyak dibekali dengan pengetahuan-pengetahuan dibidangnya. Seperti
pengetahuan tentang mesin-mesin industri untuk program keahlian teknik mesin,
pengetahuan tentang otomotif untuk program keahlian teknik otomotif, serta
pengetahuan tentang komputer untuk program keahlian teknik komputer
jaringan. Kompetensi keahlian teknik pemesinan di SMK menuntut siswanya
untuk menguasai mata pelajaran CNC dasar.
Mata pelajaran CNC Dasar merupakan mata pelajaran yang sangat
penting dalam kompetensi keahlian teknik pemesinan. Pada mata pelajaran ini
para siswa diajarkan tiga standar kompetensi yang disesuaikan dengan
Permendiknas No. 28 Tahun 2009. Ketiga standar kompetensi tersebut yaitu
mengeset mesin dan program mesin bubut CNC, memprogram mesin bubut
CNC, dan mengoperasikan mesin bubut CNC. Mesin bubut CNC merupakan
suatu mesin yang pengoperasiannya menggunakan bahasa kode berupa angka
dan huruf (Lilih, 2000:3). Mata pelajaran ini sangat perlu diajarkan kepada siswa
karena tuntutan kurikulum yang harus ditempuh oleh siswa.
3
Berdasarkan pengamatan dan observasi bulan Februari 2012 di SMK
tersebut, dapat ditemukan beberapa hambatan dalam proses pembelajaran CNC
Dasar. Hambatan-hambatan tersebut antara lain sebagai berikut : 1) Materi yang
disampaikan pada mata pelajaran CNC Dasar berbeda dengan Mesin CNC yang
dimiliki oleh SMK muhammadiyah 1 Salam. Mesin yang dimiliki oleh SMK
Muhammadiyah 1Salam yaitu Siemens Sinumerik 802S, sedangkan materi yang
diajarkan disana yaitu materi mesin CNC tipe Emco TU-2A. 2) Mesin bubut CNC
yang dimiliki sekolah belum digunakan dalam pembelajaran. 3) Prestasi belajar
siswa yang masih dalam batas angka standar kelulusan minimum yaitu 7,00. 4)
Siswa masih mengandalkan guru sebagai satu-satunya sumber informasi dalam
belajar. 5) Belum adanya bahan ajar mesin bubut CNC dengan sistem kontrol
sinumerik 802S untuk mata pelajaran CNC dasar , sehingga tujuan kompetensi
dasar sesuai SKKD belum bisa tercapai.
Pembelajaran sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2003 adalah proses
interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Kurangnya sumber informasi belajar dapat menghambat
tercapainya tujuan proses pembelajaran, untuk itu diperlukan strategi dalam
proses pembelajaran diantaranya dengan memanfaatkan media pembelajaran
sebagai alat bantu dalam menyampaikannya. Penggunaan media pembelajaran
yang tepat diperlukan dalam rangka meningkatkan pengetahuan dasar siswa.
Hal ini dimaksudkan untuk memberikan visualisasi dan pemahaman materi
menjadi lebih mudah dari pengajar kepada siswa. Salah satu penggunaan media
pembelajaran di sekolah yang isi materinya lebih terperinci dan sesuai
kompetensi adalah modul.
Dengan media modul mesin bubut CNC dengan sistem kontrol
sinumerik 802S sebagai media pembelajaran dalam mata pelajaran CNC dasar,
4
diharapkan terjadi peningkatan aktivitas dan kompetensi tentang mesin bubut
CNC dengan sistem kontrol sinumerik 802 S sehingga, siswa dapat
mengoperasikan mesin bubut CNC di kompetensi keahlian teknik pemesinan
SMK Muhammadiyah 1 Salam.
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas maka masalah dalam
penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : (1) Bagaimanakah peningkatan
keaktivan belajar siswa kelas XII SMK Muhammadiyah 1 Salam selama proses
pembelajaran mata pelajaran CNC dasar dengan menggunakan media modul
pembelajaran?, (2) Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar siswa kelas XII
SMK Muhammadiyah 1 Salam selama proses pembelajaran mata pelajaran CNC
dasar dengan menggunakan media modul pembelajaran?
Kajian Teori
Pembelajaran menurut UU Nomor 20 tahun 2003 adalah proses
interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Sedangkan menurut Permendiknas No.41 Tahun 2007
dijelaskan bahwa pembelajaran merupakan suatu usaha sengaja, terarah dan
bertujuan oleh seseorang atau sekelompok orang (termasuk guru dan penulis
buku pelajaran) agar orang lain (termasuk peserta didik), dapat memperoleh
pengalaman yang bermakna. Usaha ini merupakan kegiatan yang berpusat pada
kepentingan peserta didik
Definisi lain mengenai pembelajaran juga dijelaskan pada kamus besar
bahasa indonesia yaitu berasal dari kata ajar yang berarti proses, cara perbuatan
menjadikan orang atau makhluk hidup belajar (Kamus Besar Bahasa Indonesia
2005:17). Dengan kata lain, Pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses
komunikasi antara peserta didik dengan pendidik serta antar peserta didik dalam
rangka perubahan sikap (Asep Jihat, 2008:11).
5
Dilihat dari berbagai definisi diatas dapat diketahui bahwa proses
pembelajaran mencakup tiga komponen yaitu input, proses, dan output. Contoh
input seperti kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik, bahan pelajaran dan
alat atau media yang digunakan Contoh proses antara lain strategi pembelajaran,
penggunaan media pembelajaran. Sedangankan output adalah hasil dari proses
pembelajaran. Pendidik dalam proses pembelajaran tentunya pendidik
mempunyai teknik atau cara tertentu, baik itu penyampaian materinya atau media
yang digunakan.
Proses pembelajaran dalam pendidikan menjadikan perubahan pada
anak didik yang disebut proses belajar. Belajar menurut Permendiknas No. 41
Tahun 2007 merupakan perubahan yang relatif permanen dalam kapasitas
pribadi seseorang sebagai akibat pengolahan atas pengalaman yang
diperolehnya dan praktik yang dilakukannya. Sedangkan Davies mengutip
pendapat John Dewey (1987:31). mengartikan belajar adalah menyangkut apa
yang harus dikerjakan murid-murid untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus
datang dari murid-murid sendiri. Sedangkan guru hanya sebagai pembimbing
dan pengarah, yang mengemudikan perahu, tetapi tenaga untuk menggerakkan
perahu tersebut haruslah berasal dari mereka atau murid itu sendiri. Sedangkan
Driscoll mengungkapkan definisi belajar sebagai proses perubahan yang terus
menerus dalam kemampuan yang berasal dari pengalaman-pengalaman siswa
dan interaksinya terhadap dunia ( Sharon,dkk, 2011:11).
Hasil perubahan yang dikuasai oleh siswa dalam pembelajaran sering
disebut prestasi belajar. Abdul majid dalam bukunya yang berjudul perencanaan
pembelajaran (2008:185) menjelaskan definisi prestasi belajar merupakan suatu
hasil yang diperoleh melalui kerja keras untuk menguasai kompetensi tertentu
6
sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran adalah untuk
mengembangkan dan meningkatkan kepribadian individu berupa tingkah laku.
Langkah yang dilakukan untuk mengetahui suatu prestasi belajar dapat
dilakukan dengan melakukan tes evaluasi kemudian dilanjutkan dengan
pemberian peniaian. Penilaian hasil pembelajaran menggunakan Standar
Penilaian Pendidikan dan Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran (
Permendiknas No.41 Tahun 2007). Sedangkan pemerintah melalui BSNP
mengeluarkan standar dalam melakukan penilaian untuk mengetahui prestasi
belajar. Dalam standar penilaian dijelaskan bahwa penilaian pendidikan
merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan
pencapaian hasil belajar peserta didik( Permendiknas No 20 Tahun 2007 ).
Proses pencapaian prestasi belajar siswa tidak bisa terlepas dari media
pembelajaran ataupun bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran. Media
pembelajaran adalah peralatan yang digunakan untuk membantu komunikasi
dalam pembelajaran (Permendiknas No.40 Tahun 2008). Media pembelajaran
yang biasa digunakan dalam pembelajaran di SMK adalah bahan ajar.
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk
membantu guru/instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar (Abdul
majid, 2008:173). Bahan ajar disini dapat berupa modul. Modul merupakan suatu
unit program pengajaran yang disusun dalam bentuk tertentu untuk keperluan
belajar. Menurut makna istilah asalnya modul adalah alat ukur yang lengkap,
merupakan unit yang dapat berfungsi secara mandiri, terpisah, tetapi juga dapat
berfungsi sebagai kesatuan dari keseluruhan unit lainnya. (Sudjana dan Rivai,
2007:132)
Penggunaan modul dalam kegiatan belajar mengajar bertujuan agar
tujuan pendidikan bisa dicapai secara efektif dan efisien. Para siswa dapat
7
mengikuti program pengajaran sesuai dengan kecepatan dan kemampuan
sendiri, lebih banyak belajar mandiri, dapat mengetahui hasil belajar sendiri,
menekankan penguasaan bahan pelajaran secara optimal (mastery learning),
yaitu dengan tingkat penguasaan 80%.
Modul mesin bubut CNC dengan sistem kontrol sinumerik 802 S berisi
materi yang telah disesuaikan dengan SKKD kompentensi keahlian teknik
pemesinan sehingga diharapkan siswa akan dapat mencapai kompetensi yang
telah ditentukan oleh sekolah. Dalam modul tersebut siswa akan diberi materi
tentang mesin bubut CNC meliputi beberapa materi pembelajaran. Materi
tersebut antara lain sebagai berikut:
Pembelajaran ke 1. Berisi materi tentang penjelasan mesin bubut CNC.
Dalam pembelajaran pertama siswa diberi materi ajar meliputi mengartikan
mesin CNC, menjelaskan jenis mesin bubut CNC, dan menyebutkan bagianbagian
mesin bubut CNC.
Pembelajaran ke 2. Berisi materi tentang menghidupkan mesin bubut
CNC. Menghidupkan mesin bubut CNC meliputi beberapa tahap yaitu :
menghubungkan dengan arus listrik, tuas pompa oli ditarik sebanyak tiga kali,
saklar utama mesin diposisikan pada posisi ON, kunci power supply dinyalakan
dengan menarik tuas push. Setelah menghidupkan mesin langkah selanjutnya
mereferent sumbu X dan Z, serta mereferent spindle. Langkah terakhir yaitu
mematikan mesin bubut CNC.
Pembelajaran ke 3. Berisi materi tentang melakukan setting benda kerja,
pahat, dan zero offset mesin bubut CNC. Materi yang diajarkan meliputi
memahami persyaratan kerja mesin bubut CNC, memahami macam-macam
pahat yang digunakan, dan setting pahat dan pemindahan.
8
Plan
Action
Observation
Reflektif
Plan
Action
Observation
Reflektif
Pembelajaran ke 4. Berisi materi tentang menulis program di mesin
bubut CNC. Materi tersebut meliputi : menjelaskan dasar pemrograman, menulis
dasar pemrograman serta menulis program di mesin bubut CNC.
Pembelajaran ke 5. Berisi materi tentang mengoperasikan mesin bubut
CNC. Materi yang diajarkan meliputi menulis program di mesin bubut CNC,
pengecekan program yang telah ditulis di mesin bubut CNC, menjalankan
program tanpa benda kerja, dan menjalankan program untuk membuat benda
kerja.
Metodologi Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) secara kolaboratif. Dalam bentuk penelitian tindakan ini, guru dilibatkan
sejak proses identifikasi masalah, rencana solusi masalah, pelaksanaan
tindakan, monitoring, evaluasi dan penyimpulan hasil. Guru sebagai praktisi
pembelajaran, peneliti sebagai perancang dan pengamat yang kritis.
Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) model kemmis ini direncanakan akan
dilaksanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus ada empat tahapan yaitu
perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi.
Gambar 1. Siklus Model Kemmis (Sukardi, 2011: 215)
REVISED PLAN
9
Hasil Penelitian
Setelah melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), aktivitas dan
kompetensi siswa dalam pembelajaran dapat meningkat, sebagaimana hasil
pengamatan dari siklus I sampai siklus III. Meningkatnya aktivitas dan
kompetensi siswa dalam pembelajaran dengan bahan ajar berupa modul, berarti
masalah dalam pembelajaran CNC dasar pokok bahasan mengoperasikan mesin
bubut CNC dapat diatasi dengan penerapan modul CNC sebagai bahan ajar.
Berikut merupakan hasil dari penelitian yang telah dilakukan dalam
proses pembelajaran CNC dasar dengan bahan ajar berupa modul.
1) Peningkatan aktivitas
Gambar 2. Grafik aktivitas
Keterangan Grafik.
Siswa yang patuh dalam mengerjakan evaluasi pada modul
Siswa yang patuh dalam mencatat materi tambahan
Siswa yang berani menyajikan temuannya
Siswa yang berani menjawab pertanyaan guru
Kerjasama siswa dalam hal pembagian tugas kelompok
Kerjasama siswa dalam menyelesaikan praktik
Siswa yang kurang memperhatikan pada saat guru menjelaskan materi
Siswa yang kurang memperhatikan pendapat siswa lain
8
12
16
6
10
15
4
8
10
4
7
10
4
12
16
4
12
16
8
12
16
7
10
15
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
siklus I Siklus II Siklus III
Jumlah Siswa
Aktivitas Siswa
10
Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat peningkatan aktivitas siswa.
Pada aspek aktivitas siswa yang patuh mengerjakan soal evaluasi pada modul
terjadi peningkatan aktivitas. Jumlah siswa pada siklus I yang patuh dalam
mengerjakan evaluasi pada modul berjumlah 8 anak berubah menjadi 12 pada
siklus III. Hal tersebut dikarenakan semua siswa mengerjakan soal evaluasi
dengan baik.
Pada aspek aktivitas siswa yang patuh dalam mencatat materi
tambahan terjadi peningkatan. siswa yang semula pada siklus I siswa yang
mencatat materi tambahan yang disampaikan guru berjumlah 6 anak mengalami
perubahan menjadi 10 anak disiklus II dan berubah menjadi 15 pada siklus III.
Hal tersebut dikarenakan semua siswa mencatat materi tambahan dengan baik
Berdasarkan gambar 2. Dapat diketahui bahwa peserta didik semakin
bertambah keberaniannya dalam menyajikan temuanya didepan kelas. Aktivitas
siswa yang berani dalam menyajikan temuanya di depan kelas mengalami
peningkatan semula pada siklus I hanya berjumlah 4 anak mengalami
peningkatan pada siklus II menjadi 8 anak dan pada siklus III menjadi 10 anak.
Berdasarkan gambar 2. Dapat diketahui bahwa peserta didik semakin
bertambah keberaniannya menjawab pertanyaan guru. Siswa yang berani dalam
menjawab pertanyaan guru mengalami peningkatan semula pada siklus I hanya
berjumlah 4 anak mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 7 anak dan
pada siklus III menjadi 10 anak.
Berdasarkan gambar 2. Dapat diketahui bahwa peserta didik semakin
bertambah kerjasamanya dalam pembagian tugas. Siswa yang semula pada
siklus I berjumlah 1 kelompok (4 anak) yang pembagian kerjanya baik. Kemudian
pada siklus II mengalami perubahan menjadi 3 kelompok yang mampu
11
bekerjasama dan akhirnya pada siklus III semua kelompok mampu melakukan
pembagian tugas dengan baik.
Berdasarkan gambar 2. dapat diketahui bahwa peserta didik dapat
bekerja sama dalam meyelesaikan tugas praktik. Aktivitas siswa dalam
bekerjasama menyelesaikan praktik dinilai dari banyaknya kelompok yang
mampu menyelesaikan praktik. Berdasarkan pengamatan kerjasama masih
kurang pada siklus I berjumlah 2 kelompok yang belum dapat bekerja sama
dengan baik dalam menyelesaikan praktik. Pada siklus III telah mampu
bekerjasama dengan baik sampai menghasilkan produk bubut bertingkat.
Berdasarkan gambar 2. dapat diketahui bahwa peserta didik semakin
tumbuh perhatianya terhadap materi yang disampaikan. Aktivitas siswa yang
memperhatikan guru mengalami peningkatan yang semula pada siklus I masih
ada 8 anak yang memperhatikan dan pada siklus III semua siswa
memperhatikan penjelasan dari guru.
Berdasarkan gambar 2. dapat diketahui bahwa peserta didik semakin
tumbuh perhatianya terhadap siswa lain yang menjawab pertanyaan maupun
mengungkapkan pendapat. Dari gambar 2. dapat dilihat aktivitas siswa yang
memperhatikan siswa lain mengalami peningkatan yang semula pada siklus I
masih ada 7 anak yang memperhatikan dan pada siklus III hanya 1 siswa yang
tidak memperhatikan pendapat siswa lain atau ada 15 anak yang
memperhatikan.
2) Peningkatan kompetensi
Peningkatan kompetensi dalam penelitian ini terdiri dari dua
peningkatan. Peningkatan yang pertama merupakan peningkatan dalam bidang
teori. Kompetensi teori disini diamati dari peningkatan nilai tes yang dilakukan.
Berikut merupakan nilai rata-rata hasil tes selama penelitian yang dilakukan.
12
Gambar 3. Nilai rata-rata hasil belajar
Gambar di atas menggambarkan nilai rata-rata hasil belajar CNC dasar
mengalami peningkatan yang semula pada siklus I nilainya 6.4 pada siklus III
telah meningkat menjadi 7.9. Pada penelitian ini tes diadakan pada setiap siklus
untuk mengetahui apakah siswa sudah memahami materi yang diajarkan
ataukah belum.
Peningkatan yang kedua merupakan peningkatan dalam segi praktik.
Berikut merupakan peningkatan kompetensi dalam segi praktik yang telah
dicapai siswa selama mengikuti pembelajaran CNC
Gambar 4. Nilai praktik
Dari gambar 4 dapat dilihat peningkatan kompetensi siswa dalam
praktik. Hal tersebut dapat diketahui dari peningkatan nilai praktik siswa yang
semula 0 menjadi 8.5. Dari nilai tersebut dapat dilihat peningkatanya yang
semula siswa tidak bisa mengoperasikan mesin bubut CNC pada awal
0
5
10
I II
III
6.4 7.1 7.9
Nilai rata-rata
Siklus
8.5
0
2
4
6
8
10
Sebelum
Penelitian
Sesudah
Penelitian
Nilai Praktik
Sebelum Penelitian
Sesudah Penelitian
0
13
pertemuan sekarang siswa sudah mampu membuat benda kerja menggunakan
mesin bubut CNC dengan panduan bahan ajar berupa modul
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka disimpulkan
bahwa :
1. Pembelajaran CNC dasar menggunakan bahan ajar modul mesin bubut
CNC dapat meningkatkan aktivitas siswa yaitu : (1) siswa yang patuh
dalam mengerjakan evaluasi pada modul yang semula pada siklus I 8
anak meningkat menjadi 16 anak pada siklus III, (2) siswa yang patuh
dalam mencatat materi tambahan yang semula pada siklus I 6 anak
menjadi 15 anak pada siklus III, (3) siswa yang berani menyajikan
temuanya atau mempraktikan didepan kelas yang semula 4 anak menjadi
10 anak pada siklus III, (4) siswa yang berani menjawab pertanyaan guru
yang semula pada siklus I hanya 4 anak menjadi 10 anak pada siklus III,
(5) kerjasama dalam hal pembagian tugas kelompok juga dapat berjalan,
(6) kerjasama dalam meyelesaikan praktik juga dapat terlaksana dengan
baik, (7) siswa yang memperhatikan penjelasan guru juga meningkat dari
9 anak pada siklus I menjadi 15 anak pada siklus III, dan (8) siswa yang
memperhatikan saat siswa lain mengungkapkan pendapat juga
meningkat yang semula siklus I 7 anak menjadi 15 anak pada siklus III.
Sedangkan peningkatan kompetensi dibuktikan dengan nilai rata-rata
ujian siswa mengalami peningkatan yang semula pada siklus I 6.4
menjadi 7.9 pada siklus III dan nilai rata-rata praktik mengoperasikan
mesin bubut CNC yang semula 0 menjadi 8.5 pada siklus III. Dari hasil
penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan modul mesin bubut
CNC dengan sistem kontrol sinumerik 802S pada mata pelajaran CNC
14
dasar dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran dan kompetensi siswa
kelas XII MPA SMK Muhammadiyah 1 Salam.
2. Penggunaan modul pada pembelajaran CNC Dasar dapat meningkatkan
pencapaian kompetensi siswa kelas XII MPA SMK Muhammadiyah 1
Salam hal tersebut dilihat dari peningkatan nilai rata-rata ujian yang
semula pada siklus I 6.4 menjadi 7.9 pada siklus III dan nilai rata-rata
praktik mengoperasikan mesin bubut CNC yang semula 0 menjadi 8.5
pada siklus III
Daftar Pustaka
Abdul Majid. (2008). Perencanaan Pembelajaran. Bandung. PT Remaja
Rosdakarya
Asep Jihat dan Abdul Haris. (2008). Evaluasi Pembelajaran. Jakarta. Rieneka
cipta
BSNP. (2007). Permendiknas RI No 20, Tahun 2007, tentang Standar Penilaian
Pendidikan.
BSNP. (2007). Permendiknas RI No 41, Tahun 2007, tentang Standar Proses
untuk Satuan Pendidikan dasar dan Menengah.
BSNP. (2008). Permendiknas RI No 40, Tahun 2008, tentang Standar Sarana
dan Prasarana SMK/MAK.
Davies, Ivor K. ( 1987 ). The Management of Learning ( Pengelolaan Belajar ).
Penerjemah : Sudarsono. Jakarta. CV.Rajawali
Depdiknas. (1990). Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 Tentang Sekolah
Menengah Kejuruan. Jakarta
Depdiknas. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
Tentang sistem pendidikan Nasional. Jakarta.
Depdiknas. (2009). Permendiknas No. 28, Tahun 2009, tentang Standar
Kompetensi Kejuruan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah
Aliyah Kejuruan (MAK).
Lilih, Dkk. (2000). Mesin Turning CNC TU-2A. Direktorat Pendidikan Menengah
Kejuruan. Jakarta
Nana Sudjana & Ahmad Rivai. (2010). Media Pengajaran. Bandung: CV Sinar
Baru Algesindo.
15
PPPB. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia (ed. ke-4). Jakarta: Balai
Pustaka.
Smaldino, Sharon E., Lowther, Deborah L., & Russell, James D. (2011).
Instructional Technology and Media For Learning ( Teknologi Pembelaran
dan Media untuk Belajar). Penerjemah: Arif Rahman. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group
Sukardi. (2011). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

0 komentar:

Poskan Komentar